Meski hanya mengantongi uang 80 dolar, selama perjalanan Mahanandia mendapatkan 10 kali lipatnya dari hasil melukis.
Selama beberapa hari pria itu mengayuh sepeda hingga 70 km, namun kadang-kadang ia mendapat tumpangan. Bahkan, seseorang menghadiahinya tiket dari Istanbul ke Wina.
"Aku bersepeda demi cinta. Namun, aku tak pernah mencintai kegiatan tersebut," kata dia. Naik sepeda tak pernah jadi hobinya.
Ia akhirnya tiba di Boras pada 28 Mei 1977, 4 bulan lebih sejak hari keberangkatan.
Meski banyak orang meragukan cinta mereka, Mahanandia dan Von Schedvin telah bersama 40 tahun. Dua anak lahir dari perkawinan mereka.
Von Schedvin merintis karir sebagai guru musik, sementara Mahanandia terus melukis. Keduanya sepakat untuk mempromosikan budaya suku asli dan menjadi sponsor beasiswa bagi kasta Dalit di India.
Dua tahun lalu, Mahanandia mendapatkan gelar kehormatan di sebuah universitas di India. Pada 2005 ia bahkan dinominasikan untuk meraih Nobel Perdamaian.
Kunjungannya ke kampung halamannyadi India pada 1997 dihadang banjir, pemerintah setempat pun menyediakan helikopter untuknya.
"Aku mendarat di lapangan sepakbola sekolahku dulu," kata Mahanandia, seraya tersenyum.
"Cinta memberikanku kekuatan untuk memaafkan orang-orang yang dulu melempariku dengan batu," kata dia. "Aku merasa bahagia kisah kami memberikan harapan bagi banyak orang."
Selama beberapa hari pria itu mengayuh sepeda hingga 70 km, namun kadang-kadang ia mendapat tumpangan. Bahkan, seseorang menghadiahinya tiket dari Istanbul ke Wina.
"Aku bersepeda demi cinta. Namun, aku tak pernah mencintai kegiatan tersebut," kata dia. Naik sepeda tak pernah jadi hobinya.
Ia akhirnya tiba di Boras pada 28 Mei 1977, 4 bulan lebih sejak hari keberangkatan.
Meski banyak orang meragukan cinta mereka, Mahanandia dan Von Schedvin telah bersama 40 tahun. Dua anak lahir dari perkawinan mereka.
Von Schedvin merintis karir sebagai guru musik, sementara Mahanandia terus melukis. Keduanya sepakat untuk mempromosikan budaya suku asli dan menjadi sponsor beasiswa bagi kasta Dalit di India.
Dua tahun lalu, Mahanandia mendapatkan gelar kehormatan di sebuah universitas di India. Pada 2005 ia bahkan dinominasikan untuk meraih Nobel Perdamaian.
Kunjungannya ke kampung halamannyadi India pada 1997 dihadang banjir, pemerintah setempat pun menyediakan helikopter untuknya.
"Aku mendarat di lapangan sepakbola sekolahku dulu," kata Mahanandia, seraya tersenyum.
"Cinta memberikanku kekuatan untuk memaafkan orang-orang yang dulu melempariku dengan batu," kata dia. "Aku merasa bahagia kisah kami memberikan harapan bagi banyak orang."









0 komentar:
Posting Komentar