Pada tahun 1975, Mahanandia berusia 26 tahun. Ia mahasiswa putus sekolah. Ia terpaksa tidur di stasiun bus atau boks telepon di Delhi.

Dengan bakatnya seninya, Mahanandia dikenal sebagai pelukis potret politisi dan selebritas -- termasuk Valentina Tereshkova, perempuan pertama di angkasa luar.


Ia akhirnya bahkan mendapatkan izin melukis di alun-alun utama Delhi di Connaught Place.

Di sanalah ia bertemu dengan Charlotte Von Schedvin yang berusia 20 tahun. Perempuan itu tergila-gila dengan budaya India.
Von Schedvin datang ke India bersama teman-temannya, dengan menaiki minibus selama 22 hari menempuh 'Hippie Trail' -- jalur budaya yang meniru Jalur Sutra.

Hippie Trail adalah jalur darat yang membentang dari India ke Eropa, melintasi Pakistan, Afghanistan, Iran, Turki, dan Yugoslavia.

Von Schedvin meminta Mahanandia untuk melukis fotonya. Namun, hasilnya tak memuaskan.

"Hasilnya agak goyang," kata Von Schedvin. "Kami memutuskan untuk kembali."

Ketika perempuan itu kembali menemuinya di bengkel lukis, tanya terbesit di benak Mahanandia, jangan-jangan Von Schedvin adalah sosok yang diramalkan sebagai jodohnya.
Setelah pertemuan kedua itu, malam harinya, Mahanandia berdoa kepada Dewa Ganesha. Ia memohon bisa bertemu lagi Von Schedvin, untuk menanyakan apakah bintangnya Taurus.

"Saat aku melihatnya di bawah lampu lalu lintas, aku merasa gugup bukan main," kata dia.

Maka pertanyaan beruntun, sesuai ramalannya pada masa kecil, diajukan.

Jawabannya: Von Schedvin berhoroskop Taurus. Ia bisa memainkan piano. Dan benar, perempuan itu memiliki areal hutan, warisan dari nenek moyangnya yang mendapatkan imbalan atas bantuan untuk Raja Swedia pada tahun 1700-an.

"Badanku bergetar hebat," kata Mahanandia. "Sudah digariskan bahwa kami ditakdirkan untuk bertemu."

Sementara, Von Schedvin mengaku tak tahu pasti apa yang membuatnya jatuh cinta pada pria India itu. "Aku hanya mengikuti kata hatiku 100 persen. Sama sekali tak memakai logika," kata dia.

Setelah sebulan bersama, Von Schedvin kembali ke Swedia, meninggalkan kekasihnya.

"Saat bersamanya, aku merasa di awang-awang," kata Mahanandia. "Aku tak lagi merasa terasing. Cinta juga mengubah cara pandangku terhadap diri sendiri."

Tak sanggup menanggung rindu, pada Januari 1977 Mahanandia menulis surat pada Von Schedvin, mengungkapkan rencananya bersepeda ke Swedia, untuk melamarnya.

>> 1 |  2 | 3 | 4 <<

0 komentar:

Posting Komentar