PK Mahanandia lahir di lingkungan kasta Dalit, yang 'haram' untuk disentuh. Keberadaannya tak dianggap dalam masyarakat. Di sekolah, ia bahkan dipaksa duduk di luar kelas.
"Derajatku dibawah anjing dan sapi," kata Mahanandia kepada CNN.
"Bahkan ketika berada di dekat kuil, orang-orang melempariku dengan batu. Aku tak pernah lupa soal itu," kata dia, mengungkap pengalaman menyedihkan di masa lalu.
Suatu hari, saat ia berusia 9 tahun, Mahanandia dibolehkan masuk kelas. Tapi ia harus duduk di belakang, tak boleh menyentuh apapun dan siapapun. Kala itu, ada kunjungan pengawas sekolah dan istrinya. Keduanya berasal dari Inggris.
Di akhir kunjungan, sang tamu kehormatan memberikan karangan bunga untuk seorang gadis yang duduk di depan.
Tanpa terduga, istrinya menuju bagian belakang kelas dan menyapa Mahanandia.
"Ia bisa melihat bahwa aku diasingkan," kata dia. "Ia menyentuh kepalaku dan berkata, 'kau punya rambut keriting yang bagus'."
Perasaan Mahanandia campur aduk. Senang bukan kepalang sekaligus ingin menangis. "Bagiku rasanya seperti ada seberkas cahaya yang menerangi gua yang gelap." Ia merasa diakui sebagai manusia.
Saat pulang ke rumah, Mahanandia dengan bangga bercerita soal pengalamannya itu ke ibunya. "Bu, aku jatuh cinta pada istri inspektur sekolah," kala dia.
Respons ibunya ternyata berpengaruh pada kehidupannya. Memegang tangan putranya, perempuan itu mencoba meramal nasib lewat garis di telapaknya.
Mahanandia diramalkan akan menikah dengan "perempuan berkulit putih dari tanah yang sangat jauh."
Tak hanya itu, kata sang ibu, perempuan tersebut berbintang Taurus, suka musik, dan memiliki hutan.
"Jadi, kami tak akan menjodohkanmu pada gadis manapun," kata sang ibu.
Di India, perjodohan biasanya diatur orangtua. Bahkan sejak kecil.








0 komentar:
Posting Komentar